Senin, 22 Mei 2017

Apakah Sulit Mencintai Tari Tradisional ??




Sejenak melepas kepenatan Ibu Kota Mamih dan keluarga pergi ke Bandung sekaligus mengantar Babam terapi, ketika kembali ke Ibu kotat, ternyata pas sekali hari senin mamih harus pergi untuk mengisi hari menjadi juri tari di sebuah Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional Tingkat SMP. Bergegaslah mamih menuju lokasi yang lumayan jauh di daerah priuk dan waktu tempuh plus macet dari Depok itu sekitar 2,5 jam.




Mamih berangkat jam 6, dan sampai dilokasi sekitar pukul 8.30 dan belum dimulai, masih ada beberpa kata sambutan. Ketika bertemu dengan rekan juri lainnya senang sekali karena memang memiliki latar belakang pendidikan seni tari, dan mamih sok sok an nebak nih nanti dalam penilian mungkin bisa menentukan pemenang yang sama dan nilai nya tidak terlalu jauh. Obrolan kami sambal menunggu waktu biasalah menceritakan kesibukan dan latar belakang masing-masing.

Salah dua juri atau keduanya yang merupakan laki-laki dan perempuan bilang,” mba nya nari dimana , masih aktif yah nari??”. Saya senyum-senyum sambal berucap, wah udah lama sekali bu gak menari, terakhir sekitar 4 tahun lalu ketika hamil Babam 7 atau 8 bulan, sayang videonya gak ada. Belum lama ini papih menawarkan sesuatu yang membuat hati mamih makin teriris hasiikkk, ada kesempatan menari tetapi pas banget passport mamih habis yasudahlah mungkin belum rejeki atau memang belom boleh nari lagi. Papih pun bilang ya nanti kalau mau kerja ngajar aja, kalau nari kan waktu ny sudah susah. Jadi curhat.,,..


Berulang kali jadi guru tari, pihak panitia masih banyak yang salah untuk menentukan ABCD sampai Z aspek yang dinilai, padahal hanya perlu 4 aspek penting yang selalu saya ingatkan ke panitia, tapi tahun ketahun tetep aja nih yah salahh terus, jangankan  utnul aspek penilaian duh koordinasi disini yah harap maklum, penulisan nama udah berapa kali saya benarkan tetep aja salah

Senang ketika saya bisa memberikan penilaian yan objektif dan bersama teman-teman juri juga bisa saling bertukar pikiran dan mereka berbagi pengalam bidang tari, kalau mamih mah masih bersyukur aja bisa lulus pas waktunya. Untuk melanjutkan pedidikan bidang seni juga masih biubar jalan dan wacana panjang ali yah, melihat Babam juga masih perlu pendampingan apalagi kalu full bersama orang lain juga gak bisa.

Akhirnya jam 9.30 peserta mulai menyerahkan synopsis tari yang di ciptaka, banyak diantara peserta yang kostumnya sudah bagus tetapi, tari yang ditampilkan tidak sesuai ketentuan, padahal dari tahun ketahun tema dan ketentuan tidak jauh berbeda dan yang bikin sedih banyak yang menampilkn seadanya dan mengecewakan. Dari 16 peserta hanya ada 5 peserta yang memenuhi kriteria dan ketentun perlombaan.  Apa sulitnya yang membaca peraturan dan ketentuan lomba toh hanya tinggal baca dan di ikuti saja intruksinya, apalagi pedamping para murid disekolah itu juga jelas kan pendidikannya. Sesulit itukah melestarikah budaya Indonesia???

Jelas sekali Tema : kearifan budaya lokal, mengambil sub tema flora atau fauna, dengan tidak menampilkan Tari Baku (yang sudah ada dan punya paten dari penciptannya) , jadi seluruh penampilan memang harus benar-benar di kreasikan sendiri. Tapi lagi-lagi bnyak peserta atau pendaming yang tidak tahu antara Tari Baku dan Tari Kreasi, apalagi keraifan budaya lokal ini, harus mengangkat budaya Betawi.


Foto 5 tahun lalu saat mamih masih mengajar


Masih ada loh yang menampilkan tari modern dengan irirngan lagu “Closer” saya cuma angguk-angguk menimati lagunya. Lalu ada juga tari modern dengan mengkolaborasi music daerah juga modern tapi saying music iringan dari daerah Bali yang diambil. Yakan mereka tinggal di Jakarta bukan di Bali. Duhhh duuhhh gemes litany, kaya pengen bilang ini guru nya kemana???

Untungglah ada beberapa tari yang sesuai dengan kriteria penilaian. Kasihan kan para peserta sudah dandan all out tapi ya gak masuk penilaian karena gak sesuai ketentuan. Mamih juga beberapakali membawa anak-anak lomba, ya pastii yang dilihat ketentuannya terlebih dahulu.

Keempat aspek yang dinilai bila sudah sesuai dengan ketentuan yaitu :

  • 1.   Wiraga
  • 2.  Wirasa
  • 3.  Wirama
  • 4.  Wirupa

Nah empat hal diatas sudah mewakili kesemuanya termasuk keseluruhan koreografi dan pola lantai, aspek tenaga , ruang dan waktu juga sudah masuk ada di dalammnya.



Padahal kalau mau mengambil tema-flora dan fauna sangat luas loh di Jakarta ini, mau kolaborasi dengan musi EDM juga bisa. Mau memperluas dari unsur kostum dan tata rias bisa sekali.

Dari beberapa peserta yang sudah mamih dan temen juri nilai nih memang pemberian poinnya hamper sama satu sama lain, kita juga berdiskusi untuk pemenang  yang akan di kirim ke tingkat selanjutnya. Jadi juri juga mencatat panjang sekali yang harus di optimalkan oleh peserta yang lanjut berikutnya. Masih banyak sih yang melupakan kerapihan tata rias, pemasangan dan kerapihan juga kebersihan kostum, apalagi masih banyak peserta yang telapak kakinya kotor, ya sebelum pentas kan bsa dibersihkan dulu pake tissue basah jadi pas dipanggung sudah bersih dan enak dilihat.

sesekali mamih pernah juga dengan teman atau rekan juri dengan latar belakang pendidikan bukan dari kesenian, atau teman seprofesi yang dari sanggar atau memang jam terbangnya tinggi, memang ada perbedaan penilaian kalau yang memang bukan dari pendidikan seni. Ad rasa, selera dan sentuhan yang berbeda, mamih selalu terkagum-kagum melihat pertunjukan tari balet atau pertunjukan dari luar negeri dengan harga tiket jutaan, ya pantas saja hasilnya luar biasa membuat tetesan air mata. 

bukannya sekali lagi meremehkan pertunjukkan dari negeri sendiri yang beberapa kali mamih lihat biasa aja padahal tiketnya mahal, dan di isi oleh banyak seniman kenamaan loh. Tapi tampilannya beda, cepat bosan klimaks juga naik turun, justru mamih lebih semangat jika ada opera atau konser anak-anak lebih banyak kemurnian yang ditampilkan.  Waktu masih kuliah dan beberapa kali nonton pertunjukan seni tari di IKJ atau GKJ pernah membuat mamih kagum juga, apalagi kalau penampilan solois artinya hanya seorang penaari yang tampil, bisa menimbulkan gejolak, mengungkap makna juga menebar sebuah makna yang mendalam bagi penontonnya. masih cetek lah mamih kalau ilmu mengenai koreografi dan seni. 

Karena kuliah di seni tari itu agak mahal untuk proses segala macam bentuk pertunjukkan, tetapi agak miris sih kalau ilmu yang kami-kami para seniman miliki sulit dihargai apalagi dianggap hanya penghibur dan pembuat tawa.

Semoga peserta yang kami pilih mampu mewakili sekolah dan wilayahnya untuk bertanding lagi dengan catatan yang memang harus dimaksimalkan.


Jadi kangen nari??

PASTI hahahahah

9 komentar:

  1. iya sih, dunia seni di indonesia rasa-rasanya masih kurang yaa.. tari masih kurang di ekspos gak kaya musik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah mba masih dirasa belum penting, dan "seadanya" semoga bisa lebih dihargai juga diperhatikan

      Hapus
  2. Sudah mulai hilang tarian yang mengakar pada budaya dan tradisi, lebih condong ke tarian yang katanya modern jika itu pengaruh dari budaya negara lain.

    BalasHapus
  3. aku suka menari Mbk, dulu ikut sanggar tari khas Bengkulu, Palembang dan Jambi :)

    BalasHapus
  4. AKu suka, tapi jarang ada sanggar tari di sini. BAhkan nggak ada Mbak. Jadi susah berkembang :)

    BalasHapus
  5. Padahal seperti masakan ya mba, makin banyak orisinalitasnya makin keren. Semoga tarian budaya Indonesia tetap eksis..

    BalasHapus
  6. Waaah mamihnya Babam keren banget. Semoga seni tari tradisional tetap lekang sepanjang jaman ya. Aku kurang ngerti nich kalau di daerahku seni tari masih lestari atau enggak. Dulu banget jaman SD, aku hafal gimana caranya membawakan sebuah tarian. Enggak hanya bisa menggerakkan jemari, kaki, tapi mata dan senyum juga kudu bicara.

    BalasHapus
  7. Aku sukaaaa.. cuma ya itu keberadaan sanggar tari masih sulit ditemui, apalagi di daerah. Jadinya anak2 cm bs belajar tari di sekolah yg tentu saja kualitasnya msh sngt kurang

    BalasHapus
  8. Aku terakhir menari sekitar 2012. Lama sekali rasanya nggak menari lagi. Badan jadi nggak selentur dulu. Aku dulu menari Jaipong. Sewaktu kecil saat tinggal di Lombok, pernah belajar tari Bali. Waktu pindah ke Bogor malah ikut ekskul tari Aceh. Baru belajar Jaipong pas mau lulus kuliah. Kebanyakan temanku bilang, belajar tari tradisional itu susah dan repot, jadi lebih banyak yang suka ikutan ekskul tari modern.

    BalasHapus